Jumat, 20 April 2012

Komunikasi lintas Budaya Efektif

Budaya-budaya yang berbeda memiliki system-sistem nilai yang berbeda dan karenanya ikut menentukan tujuan hidup yang berbeda, juga menentukan cara berkomunikasi kita yang sangat dipengaruhi oleh bahasa, aturan dan norma yang ada pada masing-masing budaya. Sehingga sebenarnya dalam setiap kegiatan komunikasi kita dengan orang lain mengandung potensi Komunikasi lintas Budaya, karena kita selalu berada pada “budaya’ yang berbeda dengan orang lain seberapun kecilnya perbedaan itu Perbedaan-perbedaan ekspektasi budaya itu dapat menimbulkan resiko yang fatal, setidaknya akan menimbulkan komunikasi yang tidak lancar, timbul rasa tidak nyaman, timbul kesalahpahaman. Akibat kesalahpahaman ini dapat menimbulkan konflik-konflik yang berujung pada kerusuhan dan pertentangan antar etnis. Sebagai salah satu jalan keluar untuk meminimalisir kesalahpahaman tersebut perlu dilakukan pembahasan dan pengakajian tentang komunikasi lintas budaya yang efektif. Termasuk diantaranya yang perlu dikaji adalah bahasa dan prilaku budaya orang lain serta prinsip-prinsip Komunikasi Lintas Budaya.

1) PENTINGNYA MEMPELAJARI KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
Kebutuhan untuk mempelajari Komunikasi Lintas Budaya ini semakin terasakan karena semakin terbukanya pergaulan kita dengan orang-orang dari berbagai budaya yang berbeda secara regional maupun internasional, latar belakang pendidikan, dan sebagainya.
Untuk merinci tujuan mempelajari Komunikasi Lintas Budaya ini Litvin (1977) menguraikan dari persfektif kognitif dan afektif, yaitu sebagai berikut :
a) Menyadari bias budaya sendiri
b) Lebih peka secara budaya
c) Memperoleh kapasitas untuk benar-benar terlibat dengan anggota dari budaya lain untuk menciptakan hubungan yang langgeng dan memuaskan orang tersebut
d) Merangsang pemahaman yang lebih besar
e) Memperluas dan memperdalam pengalaman seseorang
f) Mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampu menerima gaya dan isi komunikasinya sendiri
g) Membantu memahami budaya sebagai hal yang menghasilkan dan memelihara semesta wacana dan makna bagi para anggotanya.
h) Membantu memahami kontak antar budaya sebagai suatu cara memperoleh pandangan kedalam budaya sendiri; asumsi-asumsi, nilai-nilai, kebebasan-kebebasan dan keterbatasan-keterbatasannya.
i) Membantu memahami model-model, konsep-konsep dan aplikasi-aplikasi bidang komunikasi antar budaya
j) Membantu menyadari bahwa system nilai yang berbeda dapat dipelajari secara sistematis, dibandingkan dan dipahami.
Dari uraian Litvin diatas dapat dipahami bahwa mempelajari komunikasi lintas budaya memiliki manfaat yang cukup banyak, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain. Maka usaha untuk menciptakan komunikasi lintas budaya yang efektif itu menjadi suatu keharusan dan tak terelakkan., jika memang kita ingin komunikasi antar individu, atau antar individu dengan kelompok dimana pun berada. berjalan lancar dan harmonis.

2) EFEKTIVITAS KOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
Semua orang pasti menginginkan komunikasi yang dibangunnya berjalan lancar dan efektif, hal ini sudah merupakan fithrah kemanusiaan, akan tetapi secara tidak sadar mereka melupakan faktor penghambat (noise) lancarnya sebuah proses komunikasi, noise dapat berasal dari internal maupun eksternal pribadinya. Kegiatan komunikasi pada prinsipnya adalah aktivitas pertukaran ide atau gagasan. secara sederhana kegiatan kamunikasi dipahami sebagai kegiatan penyampaian dan penerimaan pesan atau ide dari satu pihak ke pihak lain, dengan tujuan untuk mencapai kesamaan pandanngan atas ide yang dipertukarkan tersebut. Keberhasilan komunikasi banyak ditentukan oleh kemampuan komunikan memberi makna terhadap pesan yang diterimanya. Semakin besar kemampuan memberi makna pada pesan yang diterimanya, semakin besar pula kemungkinan komunikan memhami pesan tersebut, sebaliknya, mungkin saja seseorang komunikan banyak menerima pesan, tetapi ia tidak memahami makna pesan tersebut karena kurang mampu menafsirkan pesan tersebut. Pada dasarnya komunikasi memang merupakan proses pemberian dan penafsiran pesan. Sebelum mengirim pesan komunikator mengolah dan mengkoding pesannya sedemikian rupa, sehingga pesan tersebut memenuhi tujuan kominikasi. Begitu juga komunikan ia akan mencoba menafsirkan pesan-pesan yang diterimanya dan memahami maknanya. Jika makna yang dimaksud komunikator melalui pesan yang disampaikannya sama persis dengan apa yang dimaknai oleh komunikan terhadap pesan tersebut. Maka komunikasi dikatakan berhasil atau efektif, dalam arti telah tercapai persamaan makna pesan. Menurut Gudykunst komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang dihasilkan oleh kemampuan para partisipan kamunikasi dalam sekecil mungkin kesalahpahaman William Powers dan David Lowrey menyatakan komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang sejalan dengan kognisi (apa yang dipikirkan) dari dua atau tiga individu yang berkomunikasi Untuk mencapai keberhasilan komunikasi, dibutukan sejumlah persyaratan tertutama jika komunikasi tersebut dilakukan dengan orang berbeda budaya, secara garis besar dikelompok kedalam dua yaitu : Term of Refrence/Kerangka Acuan. Dan Field of Experience/ Latar Belakang. Misalnya ketika disebut kata Pesawat , jika yang dimaksud komuniator pesawat itu adalah pesawat terbang, demikian juga komunikan menafsirkan kata pesawat juga pesawat terbang, berarti komunikator dan komunikan memiliki term of refrence yang sama. Pada kasus lain misalnya ketika dicapkan bahwa cinta itu indah. Itu benar bagi mereka yang memiliki pengalaman yang indah tentang itu, tetapi tidak benar bagi mereka yang mengalami kegagalan dalam cinta. Selain bias kerangka acuan, kehadiran nilai-nilai, adat istiadat, kebiasaaan atau kepercayaan yang terdapat dalam suatu kebudayaan dapat mempengaruhi perbedaan pengalaman seseorang. Everet Rogers dan Lawrence Kincaid juga mengatakan bahwa komunikasi antar budaya yang efektif terjadi jika muncul mutual understanding atau komunikasi yang saling memahami. Yang dimaksud saling memahami adalah keadaan dimana seseorang dapat memperkirakan bagaimana orang lain memberi makna atas pesan yang dikirim dan menyandi balik pesan yang diterima. Suatu hal yang patut diingat bahwa pemahaman timbal balik itu tidak sama dengan pernyataan setuju, tetapi hanya menyatakan dua pihak sama-sama mengerti makna dari pesanyang dipertukarkan itu Proses mencapai kesepakatan (sharing og meaning), lazimnya berlangsung secara bertahap, karena itu lebih awal kita perlu memperhatikan 5 (lima) sasarn pokok dalam proses berkomunikasi, yaitu :
a) Membuat pendengar mendengarkan apa yang kita katakan (atau melihat apa yang kita tunjukkan kepada mereka)
b) Membuat pendengar memahami apa yang mereka denganr atau lihat
c) Membuat pendengar menyetujui apa yang telah mereka dengar (atau tidak menyetujui apa yang kita katakan, tetapi dengan pemahaman yang benar)
d) Membuat pendengar mengambil tindakan yang sesuai dengan maksud kita dan maksud kita bisa mereka terima
e) Memperoleh umpan balik dari pendengar Tentu tidaklah mudah untuk membuat sebuah komunikasi berjalan dengan mengahasilkan kesepakatan secara utuh sesuai tujuannya.

Hambatan dalam berkomunikasi cukup beraneka ragam, baik itu yang berasal dari internal maupun eksternal, Jika komunikasi dilakukan lewat saluran media massa, mungkin saja gangguan ada pada saluran tersebut. Misalnya cetakan yang kabur (tidak jelas) bagi media cetak, atau suara dan gambar yang tidak jelas bagi media elektronik audio visual dan lain sebagainya. Secara sederhana dapat kami gambarkan pada table berikut hambatan-hamabatan dalam berkomunikasi yaitu :

JENIS-JENIS HAMBATAN DALAM KOMUNIKASI NO JENIS HAMBATAN DESKRIPSI
1 Fisik Yaitu hal-hal yang menyangkut ruang fisik, lingkungan dan lain-lain.
2 Biologis Hambatan karena ketidak sempurnaan anggota tubuh
3 Intlektual Hambatan yang berhubungan dengan kemampuan pengetahuan
4 Psikis Hambatan yang menyangkut factor kejiwaan, emosional, tidak saling percaya, penilaian mengahkimi dll
5 Cultural Hambatan yang berkaitan dengan nilai budaya, bahasa dll.

Komunikasi merupakan aktifitas yang selalu dilakukan oleh manusia selama masih hidup dan berhubungan dengan manusia lainnya. Dalam proses komunikasi tersebut manusia sangat mendambakan komunikasi yang lancar dan efektif, agar tidak terjadi kesalahpahaman yang menjurus pada konflik. Dan pada hekekatnya seluruh keberhasilan proses komunikasi pada akhirnya tergantung pada efektifitas komunikasi. Yakni sejauh mana para partisipan nya memberi makna yang sama atas pesan yang dipertukarkan. Pada gilirannya latar belakang budaya partisipan senantiasa berbeda walau sekecil apapun perbedaan itu akan sangat menentukan efektivitas itu. Oleh karenanya memahami makna budaya dan segala yang terakit dengan itu merupakan sesuatu yang mutlak dilakukan demi tercapainya komunikasi yang efektif.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar